Gerbong Kereta ke Ibu Kota
Aku tengah duduk dalam suatu gerbong kereta yang akan membawaku ke ibu kota,
Pandanganku tertuju pada pepohonan yang beruntai horizontal,
memanjang searah mata memandang,
bagaikan tirai yang perlahan menyelubungi malam,
melarutkanku dalam kesunyian yang mendalam.
Di sini, di dalam gerbong yang bergerak tanpa henti,
hening menyelimuti, seolah waktu pun terhenti,
dan kami yang berada di dalamnya, hanya bisa terdiam,
menyongsong harapan yang menggantung di ujung perjalanan.
Duhai jalan panjang, kau bawa aku entah ke mana,
Ragaku di sini, namun hatiku seperti hilang,
lenyap dalam kabut malam yang kian pekat,
melayang-layang di antara kenangan yang terhempas,
di peron masa lalu yang kini hanya tinggal bayang.
Apakah aku sedang menuju tempat di mana semua luka sembuh,
atau sekadar mengulang derap langkah yang tak pernah sampai?
Kereta ini terus melaju, menyisakan suara gemuruh
seakan nyanyian yang menyayat jiwa,
mengiringi perjalanan yang entah kapan akan usai.
Di tengah gemuruh mesin yang menderu,
aku termenung, merenungi takdir yang membentang di depanku,
sepanjang rel-rel ini, yang tak pernah tahu akhir dari penantianku.
Adakah di ujung sana, secercah cahaya yang menanti,
atau hanya kehampaan yang setia menyambutku?
Gerbong ini adalah penjara sunyi bagi raga yang terus bergerak,
namun hatiku, tersembunyi dalam lapisan-lapisan malam,
mengembara dalam dunia yang hanya bisa dirasakan oleh jiwa,
tanpa tahu ke mana ia akan berlabuh.
Malam kian pekat, menelan setiap desir angin,
membawa serta perasaanku yang tak kunjung menentu,
terhanyut dalam aliran waktu yang tak mengenal batas.
Di setiap tikungan, di setiap jembatan yang kulewati,
aku semakin jauh dari siapa diriku dulu,
meninggalkan jejak-jejak yang mungkin tak akan pernah kutemukan kembali.
Langit malam yang menghiasi jendela kereta,
menjadi cermin bagi hati yang tersembunyi,
berkelana tanpa arah dalam samudra kelam,
mencari makna dari setiap detik yang terlewat.
Duhai jalan panjang, kemanakah kau bawa aku kali ini?
Apakah kau tunjukkan jalanku menuju kedamaian yang kunantikan,
atau hanya mengantarkanku pada labirin tanpa ujung?
Aku hanyalah pengembara tanpa arah,
mengikuti arus takdir yang mengalir tanpa henti,
menyusuri rel-rel yang seakan takdir telah gariskan,
sementara hatiku, bagai embun yang menyatu dengan kabut,
mencari kepastian dalam perjalanan yang penuh misteri.
(230314)


Comments
Post a Comment
Leave your comment here :)