Temui Aku Lagi..
Cerita kita sungguh indah...
Ada kamu, aku...
Cinta yang kau kenalkan begitu dalam kau tanam di relung hati ini.
Kau sentuh hatiku dari hari ke hari, malam ke malam, sehingga ia tak goyah ditelan waktu.
Aku seperti kamu, kita seperti satu.
Aku merasakan apa yang kau sedang rasakan,
Dan kau selalu ada untukku saat aku sedih, aku goyah, dan saat aku putus asa terhadap kehidupan.
Baru kali ini aku merasakan bahwa aku membutuhkan rindu,
Aku membutuhkan air mata...
Apa kau ingat?
Kau menemukanku di depan sebuah rumah tua, di sebuah jalan sempit di sebuah kota yang sepi penduduk.
Aku sedang tertunduk menangis mengenakan baju berwarna jingga yang lusuh.
Kau usap kepalaku dan bertanya,
“Mengapa kamu menangis, sayang?”
Aku berkata kepadamu,
“Aku telah jauh berjalan untuk mendapatkan uang, Ketika sampai di kota ini, aku ditipu...
Sekarang bekalku habis, aku tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini.”
Kaupun tersenyum menatapku dan mengusap air mataku.
Kau berikan aku tempat berteduh, di rumahmu...
Ya! Di rumahmu, tidak jauh dari tempat kau menemukanku.
Aku ingat ayahmu, kau hanya tinggal berdua dengannya...
Ia sungguh baik padaku,
Memberiku pakaian, makanan, dan mengajariku cara berkuda.
Suatu hari, aku ingat ketika itu sore hari, di depan rumahmu..
Di pinggir danau yang besar itu, kau dan ayahmu sedang duduk bercerita tentang hari.
Aku bawakan kalian roti yang kubeli di pasar, dan aku pun duduk di antara kalian.
Ayahmu mengusap kepalaku dan berkata, “Menyanyilah untuk kami, anakku!”
Aku tersenyum, lalu kau mengambil alat musik petik seperti “Oud”
Dan kita pun melantunkan lagu indah ditemani mentari senja yang tenggelam.
Sungguh indah sekali hari itu,
Di mana malamnya kita sempat melihat cahaya rembulan dari sebuah perahu rakit di tengah danau.
Malam itu, kita berbagi cerita di bawah langit yang penuh bintang,
Cahaya bulan memantul di permukaan danau,
Menggambarkan betapa damainya dunia yang kita miliki dalam kebersamaan itu.
Suara air yang mengalir tenang seakan membisikkan rahasia alam,
Mengiringi percakapan kita yang tak henti-hentinya mengungkap rasa.
Tapi di balik keindahan itu, ada sesuatu yang tak terucap,
Ada getar di hatiku yang enggan kupahami,
Seakan alam telah memberi isyarat, bahwa kebahagiaan ini hanya sementara.
Namun, aku menolak memikirkannya,
Aku ingin menikmati setiap detik bersamamu,
Mengukir kenangan yang tak akan pernah pudar,
Mengisi relung-relung hati dengan cinta yang tak terukur oleh waktu.
Saat kita berbaring di atas perahu, memandang ke langit,
Aku merasakan hangatnya kehadiranmu di sisiku,
Namun, di sudut mataku, aku melihat bayangan perpisahan,
Menggantung di antara bintang-bintang yang jauh di sana.
Aku tidak ingin melepaskan tanganmu,
Tapi malam itu terus bergulir,
Membawa kita semakin dekat pada pagi yang tak terelakkan,
Pada kenyataan yang harus kita hadapi,
Bahwa esok mungkin tak akan sama lagi.
Dan ketika fajar mulai menyingsing,
Aku tahu, saat itu akan tiba,
Saat di mana kita harus saling melepaskan,
Menyisakan rindu yang tak terkatakan,
Tersimpan dalam setiap kenangan indah yang pernah kita ciptakan bersama.
Aku pun tidak menyangka hari itu menjadi hari terakhirku bersamamu...
to be continue....


Comments
Post a Comment
Leave your comment here :)