Manifestasi di ambang sidang skripsi

Ketika seseorang akan menghadapi ujian atau tes di suatu lembaga, ia akan berdoa agar dirinya diberikan kemampuan untuk menjawab soal.

Namun, hal itu tidak terjadi padaku. Ekspektasi orang terhadap diriku sangat berbeda dengan kenyataan. Sebenarnya, aku tidak tahu apa-apa. Aku ini bodoh, dan ilmu yang kupunya hanyalah yang Tuhan kirim karena keberuntungan. Aku hanya berdoa agar Tuhan membuat para penguji menanyakan hal yang mudah-mudah saja, sesuai dengan kemampuanku. Bahkan, aku sering berdoa agar Tuhan menghiasi tutur kata dan sikapku sehingga bisa meluluhkan hati mereka.

Hari itu tiba, hari yang paling kutakutkan: "Sidang Skripsi." Teman-temanku tidak bisa tidur nyenyak, dan aku mulai ikut deg-degan sehari sebelumnya. Di sosial media, mereka yang telah sidang memajang foto bersama kertas kelulusan mereka, dengan nilai yang luar biasa bagus.

Orang-orang yang biasa-biasa saja sehari-harinya malah mendapatkan hasil yang cemerlang. Sebaliknya, yang menurutku pintar malah tidak mendapat nilai "A". Aku mendengar bahwa nilai "A" itu langka, karena itu artinya sempurna. Seperti lomba lari marathon, semakin keras kau berusaha mengalahkan orang lain, semakin lelah pula kau. Harus dibiarkan mengalir, apa adanya, namun tetap berusaha semampumu.

Aku menyelesaikan skripsiku dengan bantuan dosen pembimbing yang sangat detail dan cekatan. Dosen itu menanamkan dalam diriku sebuah kebiasaan baru: "critical thinking".

Malam sebelum sidang, aku bermimpi buruk bahwa aku harus menghadiri sidang susulan karena tidak lulus di sidang pertama. Dalam mimpi itu, pengujiku berubah menjadi sesuatu yang mengerikan, seperti monster yang siap melahapku. Aku terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhku, dan perasaan takut yang menyelimuti.

Keesokan paginya, aku bangun subuh dan menggantungkan semua hal dalam doa. Aku berusaha menenangkan diri dengan keyakinan bahwa apapun yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Setelah sarapan secukupnya, aku berangkat ke kampus lebih awal.

Jalanan yang masih sepi memberikan efek percaya diri yang tinggi. Pohon-pohon, burung-burung, dan awan di sepanjang perjalanan seakan memberiku semangat. Sampai di kampus, aku bertemu dengan teman-teman seperjuangan. Kami berbagi cerita dan semangat, namun aku berusaha tidak terpengaruh oleh kecemasan yang menyelimuti sebagian dari mereka.

Seperti biasa, sarapan adalah hal yang tidak boleh dilewatkan. Sarapan nasi goreng dengan telur mata sapi dan segelas susu cokelat adalah pilihan terbaik pagi itu. Tapi tak disangka, saat aku menyuap nasi goreng pertama, aku menggigit rawit! Rasanya seperti api berkobar di mulutku. Aku meloncat dari kursi, mencari air dengan panik, dan entah bagaimana, aku tersandung kaki meja. Air yang aku bawa tumpah ke seluruh lantai, membuat keadaan semakin kacau.

Sambil memegangi bibir yang terbakar, aku tertawa sendiri. “Yah, mungkin ini tanda dari Tuhan untukku tetap rendah hati,” pikirku sambil menyeka air mata yang keluar bukan hanya karena rasa pedas, tapi juga karena betapa konyolnya aku.

Setelah kekacauan kecil di pagi hari itu, aku segera berangkat ke kampus. Sepanjang perjalanan, aku berusaha mengingat semua yang sudah kupelajari, tapi satu hal yang terus menghantuiku adalah pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan oleh dosen penguji. "Bagaimana jika mereka menanyakan sesuatu di luar dugaanku?" pikirku, mencoba untuk tetap tenang. Tapi otakku sepertinya punya agenda sendiri.

Tiba di kampus, aku melihat teman-temanku sudah berkumpul di depan ruangan sidang. Wajah mereka pucat, dan mereka tampak seperti kelompok narapidana yang menunggu giliran di eksekusi. Aku mencoba mencairkan suasana dengan melemparkan beberapa humor namun sepertinya ketakutan lebih menguasai mereka daripada rasa humorku.

Saat giliran sidangku tiba, jantungku berdetak seperti genderang perang. Aku berjalan menuju ruang sidang, dan tiba-tiba terlintas pikiran, “Bagaimana kalau aku tersandung dan jatuh di depan para penguji? Pasti akan sangat memalukan.”

Namun, aku mencoba menghapus pikiran itu dan tetap mencoba berjalan menuju ruangan dengan penuh percaya diri, atau setidaknya itu yang coba kutunjukkan.

Ruangan sidang sudah terlihat semakin dekat. Jantungku semakin berdetak kencang. “Ayo, kamu pasti bisa! semangat yah!” kata teman-temanku yang telah selesai mencoba menghibur. Tapi apa mereka tahu? Perasaanku saat ini lebih kacau dari yang mereka kira.

Saat aku memasuki ruangan, dua dosen penguji sudah duduk dengan ekspresi serius. Di tengah suasana tegang itu, aku berusaha menunjukkan senyum terbaikku, meski bibirku terasa kaku. “Good morning mam,” sapaku sambil sedikit membungkuk. Mereka hanya mengangguk singkat.

Presentasi pun dimulai. Segala sesuatu berjalan lancar hingga tiba-tiba... proyektor mati. Jantungku seakan berhenti berdetak. "Oh tidak, ini pasti bukan pertanda buruk," pikirku. Aku berusaha tetap tenang dan mengusir pikiran negatif yang mulai merayapi pikiranku. “Tuhan, tolonglah aku,” bisikku dalam hati.

“Kamu punya salinan presentasi di laptop kamu?” tanya salah satu dosen, Ms. Henny, yang dikenal sebagai penguji paling galak.

“I-iya, Mam. Saya bawa,” jawabku dengan suara sedikit bergetar. Aku segera menyambungkan laptopku ke proyektor cadangan yang mereka sediakan.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti seumur hidup, presentasi dilanjutkan. Meskipun aku berusaha sekuat tenaga, pertanyaan demi pertanyaan dari penguji terasa seperti serangan yang tak berkesudahan. Mereka menggali setiap sudut skripsiku, mencari celah sekecil apapun.

“Bagaimana kamu bisa seyakin itu bahwa metode ini efektif untuk anak-anak dengan ADHD?” tanya Ms. Lewi, dosen pembimbingku yang biasanya lembut, tapi kali ini suaranya penuh tekanan.

Keringat mulai mengucur di dahiku. Aku menelan ludah, berusaha mengingat semua yang telah kupelajari. "Berdasarkan penelitian yang saya kaji, metode ini... memiliki efektivitas yang tinggi jika diterapkan secara konsisten dan disesuaikan dengan kebutuhan individual anak," jawabku, mencoba terdengar meyakinkan.

Ms. Henny menyela, “Namun, bukankah metode yang kamu gunakan ini lebih cocok diterapkan dalam konteks psikologi ketimbang pendidikan? Apakah kamu gak merasa ini agak menyimpang dari jurusan kamu?”

Lidahku kelu. Aku tahu ini pertanyaan yang sulit, dan aku tidak memiliki jawaban yang sempurna. Aku hanya bisa mengandalkan prasangkaku terhadap Tuhan. “Memang benar, Mam. Namun, saya percaya bahwa pendidikan dan psikologi sangat berkaitan erat, terutama dalam menangani anak-anak dengan kecenderungan kebutuhan khusus. Saya merasa perlu untuk mengintegrasikan keduanya agar metode yang saya usulkan bisa benar-benar bermanfaat bagi anak didik.”

Wajah para penguji terlihat sedikit melunak, tapi aku tahu perjuangan ini belum selesai. Mereka masih memiliki beberapa pertanyaan lagi, dan setiap pertanyaan terasa seperti ujian atas keyakinanku.

Rasa gugup masih tersisa. Suasana sidang mulai lebih rileks setelah itu. Para penguji mengajukan pertanyaan yang lebih sesuai dengan materi skripsiku, dan aku bisa menjawabnya dengan lebih percaya diri. Sidang akhirnya selesai, dan aku keluar dengan perasaan campur aduk.

Selesai sidang, aku pergi ke mall dekat kampus untuk mencari makan, berusaha mengalihkan pikiran dari hasil sidang. Setelah makan, aku kembali ke kampus untuk menunggu hasil. Tiga jam terasa seperti tiga hari. Perasaanku campur aduk, antara berharap dan takut. Akhirnya, nama-nama peserta dipanggil satu per satu untuk menerima hasil sidang.

Ketika namaku dipanggil, aku masuk ke ruangan dengan detak jantung yang semakin cepat. Penguji-penguji menatapku dengan wajah serius. Mereka meminta pendapatku tentang penampilanku tadi. Aku menjawab dengan jujur bahwa aku sudah melakukan yang terbaik. Mereka membuka hasilnya dan menyerahkan secarik kertas kepadaku.

Seketika, mataku terpaku pada satu kata: "LULUS," dan nilai "B+" tertulis jelas. Aku terkejut sekaligus lega. Tidak mengapa bukan "A" karena aku tidak mengejar kesempurnaan. Ini adalah hasil dari prasangkaku terhadap Tuhan. Bisa saja aku mendapatkan "C" atau hanya "B" karena pertanyaan yang tidak mengandung unsur keberuntungan. Namun Tuhan baik sekali padaku. Tuhan menjagaku dari kesombongan sebuah nilai A, tapi Tuhan juga menempatkan aku lebih dari menjadi bagian dari nilai B yang artinya hanya baik saja. Aku diberi bonus + oleh Tuhan

Aku menyadari bahwa segala sesuatu terjadi sesuai prasangka kita terhadap Tuhan. Aku pun mengucap syukur dan keluar ruangan dengan senyum yang mengembang. Teman-temanku yang menunggu di luar langsung mengerubungiku, dan kami semua bersorak gembira dan saling menyemangati satu sama lain.

Jika aku mengingat perjalananku melewati ujian-ujian kehidupan ini, aku selalu menyadari bahwa semua yang terjadi bukan karena aku tahu segalanya atau karena aku hebat.

Semua terjadi karena Tuhan menginginkan sesuatu terjadi dalam hidupku. Terkadang, kita kesal atau benci terhadap peran "menyebalkan" dalam hidup kita, namun semua itu adalah bagian dari rencana Tuhan. Prasangka kita terhadap Tuhan akan menentukan bagaimana kita menjalani hidup ini. Berusaha maksimal, berprasangka baik, dan selalu sadar bahwa kita adalah "keinginan Tuhan."

(270414)




Comments

Popular post