Rembulan Meredup
Rembulan yang meredup, berlayar di lautan malam yang tenang,
Meninggalkan kenangan yang mengalir pelan, seperti riak air di danau senja,
Setiap ukiran adalah catatan bisu dari masa yang telah lalu,
Tersimpan di sudut-sudut batin yang penuh dengan bayangan lembut.
Terbanglah, duhai jiwa, dalam keheningan yang menenangkan,
Walau langkahmu pelan, meskipun sayapmu terkadang ragu,
Engkau adalah burung malam yang menyusuri angin lembut,
Mengikuti arus angin yang membawamu menuju cakrawala yang tak berbatas.
Di angkasa malam, engkau melukiskan jejak-jejak yang tak kasat mata,
membiarkan dirimu terhanyut oleh arus angin yang menyapa,
seakan setiap hembusannya adalah panggilan dari yang tak terlihat,
mengantarmu ke batas-batas yang hanya bisa disentuh oleh keberanian
membiarkan dirimu terhanyut oleh arus angin yang menyapa,
seakan setiap hembusannya adalah panggilan dari yang tak terlihat,
mengantarmu ke batas-batas yang hanya bisa disentuh oleh keberanian
Meskipun ia telah merapuh, hatimu tetaplah dermaga yang setia,
Menanti setiap perahu kenangan yang datang dan pergi,
Seperti daun-daun gugur yang menari di atas air,
Rembulan mungkin meredup, namun cahayanya akan selalu menyinari hatimu,
Seperti nyala lilin kecil yang tak pernah padam dalam kelam.
(310314)


Comments
Post a Comment
Leave your comment here :)