Tunggu aku di Telaga!
Kutunggu matahari tenggelam dari balik terali besi, merenungi kehidupan yang terkungkung dalam kegelapan malam yang penuh bintang. Malam ini adalah saatnya! Tak seperti siang yang berlalu dengan tubuh terkulai lemas, setiap hari penuh dengan sayatan demi sayatan yang merobek jiwa dan raga.
Mereka, orang-orang biadab yang mengerumuni ruang ini berteriak tanpa henti, suara mereka seperti deru angin yang menghancurkan ketenangan. Mangkuk dan sendok besi mereka beradu, menciptakan musik kebiadaban yang menyiksa telingaku, dan menyusun strategi untuk menghancurkan apapun yang tersisa dari cahaya.
Aku menatap mereka dengan tajam, mulutku terkunci rapat, enggan berbicara dengan mereka yang kuanggap kotor, karena mereka memandangku sebagai makhluk yang lebih kotor. Aku tidak akan mencerca mereka, hanya meludahi mata dinding-dinding ini dengan rasa amarah dan kerinduan yang membara.
Rindu akan cinta yang hilang, keinginan untuk pulang. Semua itu menyusup dalam setiap detik yang berlalu. Kulihat ke atas, menantang langit malam dengan dagu yang tegap. Aku angkat kedua tanganku, menyilangkannya di dada, dan mengosongkan pikiran. Berputarlah dalam kegilaan ini, bakar kebun jagung mereka dengan api yang melahap segala kebusukan, bentangkan sayap cintamu di atas ranjang duri.
Lepaskan jasadku dari belenggu, biarkan ia melelehkan jeruji laknat ini. Yang kulihat sekarang hanyalah bukit berbunga di tanah Damaskus. Sebuah masa depan indah yang menjanjikan kebebasan.
Badanku memanas, hasratku mendesis untuk merengkuh asa dalam negeri Sang Mawar. Lepaskan aku, gigit anjing-anjing mereka dan tumpahkan kerikil merah di atas tanah ribuan hektar ini. Teruskan melilit ular-ular di leher mereka, letupkan setiap sel menjadi puing radiasi.
Sebentar lagi aku pulang, sedikit lagi kuselesaikan tugasku.
Tunggu aku di telaga!
(080614)



Comments
Post a Comment
Leave your comment here :)