Ikan Kecil dan paus
Aku selalu berharap setiap tulisan yang kubuat mampu menghentikan sejenak langkah seseorang, mengundang mereka untuk merenung, dan memaksa mereka berpikir kembali setelah selesai membacanya..
I hope so :)
Apa yang membuatmu tertarik menjadi seorang milyuner?
Adakah mobil mewah yang menjulang di depan matamu, makanan dari seluruh pelosok negeri yang menggugah selera, rumah megah bak istana yang memenuhi impianmu, atau barang-barang super brand yang memanjakan mata dan tanganmu?
Apakah itu semua yang kau cari dengan dibayar dengan harga diri dan mengabaikan Tuhanmu yang sangat mencintaimu?
Menindas manusia lain yang adalah hamba dari Tuhanmu? Menguasai dan merusak bumi tempat kau hidup?
Apakah kau rela menutupi nuranimu, terinjak, dan tersudut dalam tanah yang kering, dikelilingi oleh cacing-cacing yang menari menertawakan tuan baru mereka?
Pada akhirnya, jasadmu akan mati, wahai Tuan.
Kau tak bisa memerintahkan pilotmu untuk membawamu terbang jauh dari segala kesalahan, kau juga tidak bisa menyogok malaikat maut untuk memperpanjang umurmu.
Kasihan sekali, pada hari di mana kau benar-benar jatuh dan sekarat, meninggalkan segala yang kau kejar selama ini. Saat itu, segala harta dan kekuasaanmu tak ada artinya. Yang kau butuhkan hanyalah pengampunan dan kasih sayang dari Tuhanmu, yang selama ini mungkin kau lupakan.
Sebentar... tanganku gemetar...
Pernahkah kau membayangkan hidup seperti burung? Bayangkan bagaimana mereka menjaga keseimbangan alam dengan eksistensi mereka.
Mereka bernyanyi dengan penuh syukur kepada Tuhannya, meskipun dunia semakin kehilangan keseimbangannya, tertekan oleh pencakar langit yang menjulang tinggi, yang dibangun untuk memperluas kekuasaan manusia.
Burung-burung itu tidak ingin menjadi bagian dari sumur dosa manusia.
Mereka tetap pada jalannya, mencari makanan dengan penuh usaha, hanya untuk mengenyangkan perut kosong mereka. Mereka makan dan bersyukur karena mendapatkan makanan yang tidak mudah diperoleh. Dalam kesederhanaan itu, mereka menemukan makna kehidupan.
Apalah artinya kekuasaan jika tidak membawa kebahagiaan untukmu kelak? Dalam kepuasan yang sederhana, ambilah dengan secukupnya, tak berlebih dan tidak menyakiti maupun merugikan orang lain.
Kekuasaan dan materi berlimpah hanyalah ilusi yang menutup mata kita dari keindahan dunia yang sebenarnya.
Kira-kira menurutmu apa yang akan terjadi di masa depan? Dan hari itu pasti akan datang, tidak peduli seberapa tinggi kekuasaan atau seberapa banyak harta yang kau miliki.
Cerita ini dimulai dari sebuah kisah yang aku baca delapan tahun yang lalu, tentang cinta antara si pohon dan sang hujan. Mungkin kau pernah mendengar ceritanya? Sebuah prosa pendek yang kini aku akan ceritakan kembali..
Sang hujan sangat mencintai kekasihnya sang pohon, menurunkan setiap tetes kasihnya setiap kali sang pohon membutuhkannya.
Sang pohon pun menikmati dalam kesunyian menanti kedatangan sang hujan, sebuah perasaan yang penuh harapan dan kesabaran.
Sebentar.. percaya atau tidak, saat aku menulis ini, hujan turun dengan angin lembut..
*Aku menulis ini di atap loteng rumahku
Namun, baiklah kita lanjutkan..
Cerita ini berlanjut hingga suatu hari, ketika dunia semakin panas karena atmosfer tidak mampu menahan dampak dari pencakar langit yang terus dibangun.
Panas yang melanda mengeringkan daratan, danau, hingga tanaman-tanaman rawa. Dinding permukaan bumi mulai retak, dan nasib serupa menimpa si pohon.
Kekeringan melanda, sementara sang hujan tidak lagi mampu menurunkan kasihnya, karena takdirnya hampir berakhir.
Si pohon berteriak dalam keputusasaan, menjerit memanggil hujan yang tak lagi datang. Hujan sendiri menjerit, penuh rasa sakit melihat kekasihnya menderita.
Keduanya merasakan kesakitan yang mendalam, namun mereka tidak bisa mengubah takdir.
Akhirnya, si pohon mati mengering dengan perlahan dan menyiksa, dan laut pun merasa putus asa. Ia ingin menyusul ke langit, namun tidak bisa.
Segala sesuatu yang besar pun terjadi.
Bumi, ibu dari segala kehidupan, mengerang dan menjerit merasakan sakit yang mendalam.
Ia membuat retakan yang sangat besar di tengah lautan, menyebabkan air bah yang melumatkan segala sesuatu di permukaan daratan yang menghampar luas.
Retakan besar pun terjadi di daratan, membuat benua-benua pecah menjadi kepingan-kepingan yang tak bisa dikenali lagi.
Sang hujan berontak dan hancur menjadi puing-puing radiasi, yang mengguncang gunung-gunung hingga memuntahkan laharnya.
Dan dalam hitungan menit, dunia mengalami tiga tahap kehancuran, disebabkan oleh iblis-iblis dunia yang tidak menghargai arti kehidupan.
Sejarah menjadi saksi bisu, mencatat adanya sebuah akhir yang tidak terhindarkan.
Dalam setiap napas dan tindakan kita, tersimpan kekuatan untuk menjaga keseimbangan dan keindahan dunia ini. Jangan biarkan keserakahan dan keangkuhan menutupi nilai-nilai kehidupan yang hakiki.
Kita, manusia yang terjebak dalam keserakahan dan ambisi, sering kali melupakan hakikat sejati dari eksistensi kita.
Seakan-akan kita adalah penguasa abadi, kita mengabaikan batasan-batasan alam, mengabaikan jejak-jejak yang kita tinggalkan di tanah bumi ini.
Namun, saat akhir itu datang, barulah kita mengerti bahwa kita hanyalah bagian kecil dari kosmos yang agung, sebuah fragmen dalam simfoni kehidupan yang tak terbatas.
Ketika awan gelap menutupi langit dan angin kencang menghantam, saat itulah kita menyadari bahwa kita tidak dapat lagi bernegosiasi perihal posisi kita di alam semesta.
Kita tidak bisa menyogok sang waktu atau memohon kepada kekuatan yang lebih tinggi untuk mengubah takdir yang telah ditetapkan.
Dalam kegelapan dan kehampaan yang menyelimuti, kita akan melihat refleksi diri kita yang paling dalam, menyadari bahwa hanya dengan hidup dalam kesadaran dan penuh syukur, kita bisa benar-benar mengapresiasi eksistensi diri kita sendiri.
Akhir dunia bukanlah akhir yang menyedihkan semata, melainkan sebuah pelajaran abadi.
Sebuah pengingat bahwa setiap tindakan kita memiliki konsekuensi, dan setiap langkah kita di bumi ini adalah bagian dari sebuah narasi besar yang mencakup eksistensi manusia di dalam suatu cosmos yang agung.
Hiduplah untuk bersyukur..
(071008)


Comments
Post a Comment
Leave your comment here :)