Kau atau aku yang gila?


Masih hangat, sebuah scene di pagi hari yang menyambung malam,  
Dunia seakan bergeser tanpa henti, namun waktu berdiri kaku di hadapanku,  
Dengan segelas kopi hitam tanpa gula di meja kerjamu,  
Menjadi saksi bisu dari benang kusut yang tak pernah terurai,  
Kau tak bersandiwara seperti biasa, tak ada tirai yang menutupi ketegangan di balik matamu,  
Menyeruput kopi hitam di tengah sepenggal kisah jenaka masa lalu,  
Kisah yang dulu menghangatkan, kini hanya menyisakan pahit di ujung lidah,  
Kau berbagi tawa denganku, namun tawa itu hampa,  
Bahkan sampai terlihat ujung gigimu!  
Rasakan, kawan... Angkuhmu hilang pagi ini, terselip di antara kepulan asap yang tak terbaca.  

Kau atau aku yang gila?  
Atau kita berdua yang terjebak dalam lingkaran absurditas ini,  
Mungkin kita masih dalam ekstase suasana pesta semalam,  
Di mana kita mabuk oleh kebohongan manis yang melayang di udara,  
Yang membuat kami semua hendak naik ke langit ke-7,  
Namun keesokannya, kau tamparkan kembali tawamu ke pipiku,  
Seperti angin tajam yang menghantam wajah yang tak siap,  
Dan kau bilang, “Itu tidak nyata!!”  
Kau atau aku yang gila?  
Kau berani mengatakan itu, sementara kebenaran terurai di depan mata kita,  
Sederet kalimat yang menyorot kebencian,  
Mengayuh peluhku dalam dada yang sudah terlalu penuh dengan amarah,  
Hampir saja aku muntahkan keluar, sesak sekali rasanya...  
Rasakan, kawan... rasakan kemarahan yang tak lagi bisa kutahan.  
Kau atau aku yang gila?  

Apakah aku yang mengusik identitasmu dalam cangkir yang bening?  
Ataukah memang semua jelas melihat warna airnya, kawan?  
Kau atau aku yang gila?  
Saat aku masih menulis berlembar puisi untukmu di atas kulit rusa,  
Dengan tangan yang gemetar, meski penuh tekad,  
Bahkan beberapa kali aku dengar degup nadiku sendiri berekorkan kekhawatiran,  
Seperti genderang perang yang terus menggema di dalam diriku,  
Penaku lalu terhenti, seakan takut pada kenyataan yang tak bisa dituliskan,  
Kau tetap duduk di kursi biasa, tak bergeming dari tahtamu yang seolah tak tersentuh,  
Menyilangkan kakimu sambil menghisap sebatang rokok sisa semalam,  
Dengan setiap hisapan, kau hisap pula kemarahan yang bergejolak di dalamku,  
Kau menatapku seperti serangga, tak berharga di matamu,  
Kau atau aku yang gila?  
Mungkin keduanya!
(080614)



Comments

Popular post