Serdadu Malam dalam ketenangan ilahi

Dalam cawan resah bermaknakan sunyi dalam titik hitam,  
Aku tenggelam dalam keheningan malam yang tak berbatas,  
Bintang utara bertepuk tangan menepuk malam dalam riak air sungai,  
Seakan-akan semesta mengiringi langkahku menuju perjumpaan agung,  
Selimutku masih sama...  
Kulit kayu yang basah dengan serangga gunung kian merayap,  
Menyusuri tubuh yang lemah, namun tak lagi merasakan perihnya gigitan,  
Aku masih berbaring, terkulai menanti ilusi pagi,  
Yang mungkin tak akan datang untukku esok hari.  
Esok hari pasti datang, kawan...  
Namun, hanya saja aku harus sedikit berjalan setelah tubuhku hangat,  
Sebelum akhirnya kembali ke tanah, ke pangkuan Ibu Bumi yang setia menunggu.  

Dikala ku dengar lolongan serigala hutan,  
Suara yang lebih menakutkanku terdengar dari balik jemari ranting,  
Seperti bisikan yang datang dari kedalaman jiwa yang terlupakan,  
Suara itu berdesah dalam hatiku... kian mendekat,  
Menembus setiap lapisan kesadaranku yang tersisa,  
Ia berkata, “Kau akan mati esok,”  
Kata-kata itu bergema dalam hening, menggema dalam ruang batin yang sudah kosong,  
Di saat yang sama kulihat luka sayatan dalam perutku semakin menganga,  
Seakan waktu itu sendiri yang mengoyaknya lebih lebar,  
Sepertinya jika aku meminum air sungai, ia akan tertumpah keluar,  
Mengalir bersama arus, kembali ke alam, ke asalnya yang murni.  

Aku lanjutkan perjalananku menapak bukit...  
Terhuyung-huyung dalam perjumpaan Agung memeluk nada Cinta,  
Langkahku semakin liar, seperti tarian terakhir di bawah langit yang berbisik,  
Dan akhirnya terperosok dalam sebuah hamparan rumput hijau,  
Hamparan yang seakan dipersiapkan oleh takdir untuk menjadi tempat peristirahatan terakhirku,  
Untunglah ia tidak basah...  
Kurobek bajuku agar rumput itu tak mengenai lukaku,  
Setidaknya ia tetap terlihat cantik dengan bentuk aslinya,  
Menjaga keindahannya, meski hanya sebentar.  
Hei langit, kita berteman malam ini...  
Aku bercakap-cakap denganmu, dalam dingin yang membekukan,  
Untunglah kau dinginkan malam ini sehingga aku tak menjerit-jerit karena lukaku,  
Dinginmu adalah kasih sayang yang membelai lembut,  
Sebetulnya ingin kunyalakan rokokku yang tengah basah untuk terakhir kali,  
Merasakan hisapan terakhir sebelum angin membawa sisa-sisa hidupku,  
Kuhisap asapnya yang mengepul dan terbang lebih cepat menujuMu daripada aku,  
Mengantar pesan cintaku yang tak sempat terucap,  
Tapi tanganku telah mati rasa...  
Ah... Aku pejamkan mataku saja,  
Kita Jumpa esok, di pertemuan yang sudah dituliskan sejak awal mula.  
Sampaikan pada Cintaku, aku menCintaiNya sebanyak makhluk di dunia ini...  
Dan lebih dari yang pernah kukira.  

(310514)

Comments

Popular post