Harap Khayal Sang Durjana

Suara fajar yang kudengar saat ini menyibakkan tirai senyummu dalam diam..  
Apa itu? 
Berwarna jingga di langit kelabu?  
Seperti cahaya tawamu yang membasuh jiwa.  
Hasratku ingin berjumpa laksana pedang yang menyayat seribu ranting bambu,  
Mengiris perlahan setiap keraguan yang mengakar di hatiku.  

Kulihat hatimu terungkapkan melalui dinginnya bibirmu,  
Sepi yang menyelimuti, bagai kabut yang enggan beranjak.  
Aku menatap masa lalu bagaikan sebuah kisah cinta sang durjana,  
Ya... Akulah sang durjana,  
Yang terjerat dalam bayang-bayang malam,  
Yang mengharap setetes kasih,  
Janganlah ia diserap tanah ketika terjatuh ke bumi.  

Aku haus...  
Haus akan kelembutan yang pernah menghangatkan jiwa,  
Aku satu-satunya yang membutuhkan itu,  
Ketika jiwa yang lain sungguh cantik nan suci.  
Namun aku ini hitam,  
Bagaimana kau melihat lolongan anjing gelap di sebuah gang sempit pada malam hari?  
Ia tidak meninggalkan kesenangan melainkan ketakutan yang meruah luas.  

Aku pun takut...  
Takut akan kekosongan yang mengintai,  
Terkadang, aku ingin mendekapmu lama sekali agar aku menjadi putih,  
Layaknya cerita dari negeri dongeng yang menenangkan hati.  
Tapi kau seperti kembang yang merekah bertaburkan duri di tangkainya,  
Kau tak terjamah akal maupun raga,  
Aku bisa mati...  

Dan dalam kematian itu, 
mungkin ada kedamaian yang tak pernah kurasakan,  

Namun bayanganmu tetap menghantui,  
Seperti bintang yang selalu bersinar meski tertutup awan kelam.  
Jika aku harus terjatuh dalam kelam,  
Biarlah itu terjadi di bawah cahaya matamu,  
Yang menembus relung terdalam jiwaku,  
Di sana, kuharap ada satu ruang kecil yang menyimpan seberkas harap.  

Sekalipun kau adalah mimpi yang tak tergapai,  
Aku akan terus menggapaimu dalam sunyi yang tak berkesudahan.

(250414)

Comments

Popular post