Jendela kamarku

Ku tatap lagi...  
Ku tatap engkau seperti hari-hari sebelumnya...  
Ternyata kerinduan itu kembali...  
Betapa merananya aku tanpa rindu.  
Kututup telingaku jika ada yang mengatakan mereka merana karena rindu,  
Tidak! Aku mencintai “rindu”.  
Tidakkah mereka tahu bahwa ia adalah rasa yang Tuhan hembuskan ke pintu-pintu jiwa?  
Dengannya aku dapat berlama-lama melamun di pinggir jendela,  
Menikmati gemericik air hujan yang jatuh di sudut mataku,  
Menikmati hanya ada aku dan diriku...  
Tidak dengan mereka,  
Tidak dengan apa-apa yang membuat telingaku bising.  

Lalu aku memejamkan mataku... lamaa...  
Dan akhirnya dibangunkan oleh suara adzan maghrib.  
Ya, aku tidak melakukan apa pun melainkan duduk menatapmu.  
Hey langit, apa kabarmu?  
Mengapa kau menangis berhari-hari ini?  
Oh... aku tahu...  
Kau merindukan kekasihmu, sang pepohonan,  
Lalu kau tuangkan cintamu di atas bejana tanpa ujung miliknya,  
Dan ia pun dapat menghijaukan bumi ini.  

Di balik kelopak mataku, aku menari dalam harmoni yang hanya aku dan bayanganku pahami,  
Menggenggam erat jemari imaji, melangkah di atas air yang tenang,  
Mengikuti irama sunyi yang mengalun di sudut pikiranku.  
Setiap putaran, setiap gerakan, adalah bahasa cinta yang tak terucap,  
Hanya aku yang mendengar, hanya aku yang merasakan,  
Ketika dunia luar bising dan penuh hiruk-pikuk,  
Di sini, di dalam diriku, hanya ada damai dan keheningan,  
Sebersit rindu yang tak pernah pudar,  
Ia adalah teman setiaku, yang menemani langkah-langkah kecilku,  
Dalam tarian tanpa akhir di danau imaji yang tak pernah surut.  

Dan aku akan terus menari, hingga fajar kembali mengintip,  
Menghiasi langit dengan semburat keemasan,  
Mengingatkanku pada betapa indahnya memiliki rindu yang tak terucap,  
Sebab, dengan rindu, aku tahu aku hidup,  
Dan dengan rindu, aku tahu aku mencintai,  
Meski hanya dalam diam, meski hanya dalam lamunan,  
Rindu ini adalah nadiku, yang menjagaku tetap utuh,  
Dalam tarian abadi bersama bayangan di danau imaji yang selalu menungguku.
Hari-hariku hanya kuhabiskan untuk menatapmu,  
Tapi aku senang, aku masih memilikimu.  
Sudahlah, aku ingin menari kembali di atas danau imaji di kepalaku,  
Ia sudah menungguku...  

(240414)

Comments

Popular post